Poltekbang Palembang Tingkatkan Kompetensi Personel ARFF melalui Pelatihan Kolaboratif dan Inovasi BACAK BAE
Palembang, 15 Juli 2024 — Politeknik Penerbangan Palembang melalui Program Studi Diploma Tiga Penyelamatan dan Pemadam Kebakaran (PPKP) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Enhancing Aircraft Firefighting Skills through Collaborative Practice for Improved Aviation Safety with BACAK BAE: Builder ARFF Controller Automation Kit – Be Awesome Every Time.”
Kegiatan yang dilaksanakan di Program Studi PPKP Politeknik Penerbangan Palembang ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan personel Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF) dalam menghadapi kondisi darurat kebakaran pesawat melalui pembelajaran teori dan praktik kolaboratif. Kegiatan juga menjadi sarana pengenalan inovasi BACAK BAE, yang dikembangkan oleh dosen dan taruna Program Studi PPKP Politeknik Penerbangan Palembang.
Kegiatan diikuti oleh 15 peserta, termasuk 10 personel ARFF PT Angkasa Pura dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pelaksanaan PkM didukung oleh tim yang terdiri atas dosen, instruktur dan tenaga kependidikan, serta taruna Program Studi Diploma Tiga PPKP.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penerapan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), meliputi pemeriksaan perlengkapan keselamatan, briefing, dan safety tour. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi pembelajaran teori mengenai Aircraft Fire Fighting Tactics and Techniques serta pengenalan BACAK BAE.
Materi teori mencakup teknik dasar pemadaman api, antara lain cooling, smothering, starving, dan breaking chain reaction, serta teknik pemancaran variable jet nozzle seperti solid stream, spray stream, dan fog stream. Materi tersebut menjadi dasar bagi peserta sebelum memasuki sesi praktik.
Pada sesi praktik, peserta terlibat secara langsung dalam simulasi pemadaman kebakaran mesin pesawat (aircraft engine fire) menggunakan BACAK BAE pada mockup pesawat. Praktik dilaksanakan melalui kolaborasi antara taruna PPKP dan personel ARFF, dengan pendampingan dan pengawasan dosen untuk memastikan seluruh tahapan berlangsung sesuai prosedur keselamatan.
Pendekatan learning by doing menjadi salah satu kekuatan kegiatan ini. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga berkesempatan mengaplikasikan teknik pemadaman secara langsung dalam skenario praktik. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman antara lingkungan akademik dan praktisi keselamatan penerbangan.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan secara umum diterima dengan baik oleh peserta. Sebanyak 77,02% rata-rata responden memberikan penilaian “Sangat Relevan” terhadap kegiatan, dengan aspek yang dinilai mencakup relevansi materi, kualitas penyampaian, fasilitas dan peralatan, peningkatan keterampilan, koordinasi dan kerja sama tim, praktik kolaboratif, penggunaan teknologi BACAK BAE, peningkatan kepercayaan diri, serta kepuasan umum.
Pelaksanaan PkM ini menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan praktisi lapangan dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam penguatan kompetensi keselamatan penerbangan. Penggunaan BACAK BAE memberikan pengalaman praktis kepada peserta sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut teknologi simulasi pemadaman kebakaran pesawat.
Selain memberikan manfaat bagi peserta, kegiatan ini juga menjadi bentuk implementasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui kontribusi dosen dan taruna Politeknik Penerbangan Palembang dalam mendukung peningkatan kompetensi di bidang Aircraft Rescue and Fire Fighting.
Ke depan, hasil evaluasi peserta menjadi masukan penting untuk penyempurnaan BACAK BAE dan pelaksanaan PkM berikutnya. Beberapa rekomendasi yang muncul antara lain peningkatan fasilitas praktik, penguatan kolaborasi dengan personel ARFF, peningkatan intensitas praktik, pengembangan simulator, serta perluasan pengenalan BACAK BAE kepada instansi lain yang terkait dengan pemadam kebakaran.
Melalui kegiatan ini, Politeknik Penerbangan Palembang terus mendorong keterhubungan antara pendidikan, inovasi teknologi, dan kebutuhan praktis di lapangan sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya keselamatan dan kesiapsiagaan dalam dunia penerbangan.